Syaikh Ali bin Hasan al Halabiy hafidzahullah berkata : Al musalsal yaitu : hadits yang setiap perawinya saling mengikuti di dalam suatu sifat tertentu, baik dalam bentuk ucapan -seperti bersumpah dengan nama Allah- atau dalam bentuk keadaan -seperti meriwayatkan hadits dalam keadaan berdiri- atau dalam bentuk perbuatan -seperti tersenyum selepas meriwayatkan hadits-. (At Ta’liqat al Atsariyah [26])

Rabu, 21 Februari 2018

Tafsir Surat Al-Qadr Bagian 4

by Rory Rachmad  |  in Bab Tafsir at  21 Februari

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 05 Jumadal Akhir 1439 H / 22 Februari 2018 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Tafsir Juz 30 | Surat Al-Qadr
📖 Tafsir Surat Al-Qadr (Bagian 4 dari 5)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Tafsir-H1104
~~~~~~~~~~~~~~~

*TAFSİR SURAT AL QADR (BAGIAN 4 DARI 5)*


بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
الحمد لله على إحسانه، وشكر الله على توفقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله واهده لا شرك له تعظيم بشأنه
وأشهد أن محمد عبده ورسوله دائلا رضوانه, اللهم صلى عليه وعلى آله وصحبه وإخوانه

Kita lanjutkan.

Kapankah malam lailatul qadar? 

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dahulu diberitahu oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla dalam hadīts yang shahīh, suatu saat Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam keluar ingin mengabarkan kepada para shahābat tentang kapan malam lailatul qadar. Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

خَرَجْتُ لأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ، فَتَلاَحَى فُلاَنٌ وَفُلاَنٌ، فَرُفِعَتْ، وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ،

"Saya keluar untuk mengabarkan kepada kalian, kapan malam lailatul qadar, tetapi Si Fulān dan Si Fulān sedang bertengkar, maka diangkatlah pengetahuan tentang lailatul qadar tersebut. Semoga dengan diangkatnya kabar (pemberitahuan) kapan lailatul qadar itu lebih baik bagi kalian." (Hadits riwayat Bukhari nomor 49)

⇒ Kata para ulamā, inilah sebab yang buruk yang bisa diangkatnya rahmat Allāh, gara-gara pertengkaran.

Lihat! Tadinya lailatul qadar diberi tahu oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla kepada Nabi dan Nabi sudah keluar untuk mengabarkan kepada para shahābat, tiba-tiba ada dua orang shahābat bertengkar saling mencerca di antara mereka, maka Allāh menjadikan Nabi lupa tentang malam lailatul qadar tersebut (rahmat Allāh diangkat).

⇒ Sehingga para ulamā menyebutkan harus hati-hati dengan pertengkaran. Pertengkaran harus kita jauhi, baik pertengkaran dengan skala besar maupun skala kecil.

Pertengkaran dalam skala kecil (misalnya) dalam rumah tangga. Kalau suami istri bertengkar akan banyak rahmat yang diangkat oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Oleh karenanya kita berusaha mengecilkan pertengkaran, baik dalam skala kecil maupun skala yang besar.

Berusaha bertutur kata halus, berusaha menasehati dengan cara yang baik. Nahi mungkar harus tetap dikerjakan, menegur kesalahan orang harus tetap dikerjakan tetapi dengan cara yang baik.

Karena sebab pertengkaran dua orang shahābat itu, akhirnya tidak diketahui kapan lailatul qadar. Tetapi Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menyatakan:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

"Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhān." (Hadīts riwayat Bukhāri nomor 2017)

⇒ Carilah lailatul qadar dimalam ganjil yaitu malam ke-21, 23, 25, 27, 29 Ramadhān, ini salah satunya adalah malam lailatul qadar.

Oleh karenanya kita lihat juga bila di masjid Nabawi malam ganjil lebih ramai daripada malam genap.

Sekarang, malam ganjil tersebut malam yang mana?

Para ulamā membahas juga masalah ini. Kita dapati sebagian salaf bersumpah, seperti Ubay bin Ka'ab dalam Shahīh Muslim.

Ada seorang datang menemui Ibnu Mas'ud bertanya tentang malam lailatul qadar, maka Ibnu Mas'ud (seorang shahābat senior) mengatakan:

مَنْ يَقُمِ الْحَوْلَ يُصِبْهَا

"Barangsiapa yang mendirikan (shalāt malam) selama setahun, pasti akan mendapatkannya (lailatul qadar)."

Akhirnya dilaporkan kepada Ubay bin Ka'ab radhiyallāhu Ta'āla 'anhu, "Wahai Ubay, saya telah bertemu saudaramu Ibnu Mas'ud, dia bilang shalāt malam setahun penuh pasti akan dapat malam lailatul qadar."

فَقَالَ : يَرْحَمُ اللَّهُ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ ، إِنَّهُ لَيَعْلَمُ أَنَّهَا فِي رَمَضَانَ ، وَإِنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ ، وَلَكِنَّهُ عَمَّى عَلَى نَاسٍ كَثِيرٍ لِكَيْ لا يَتَّكِلُوا

Ubay bin Ka'ab berkata, "Semoga Allāh merahmati Abdullāh bin Mas'ud, sesungguhnya dia tahu malam lailatul qadar pada bulan Ramadhan, dan sesungguhnya lailatul qadar pada tanggal 27. Akan tetapi dia tidak mau kalian bersandar bila kalian tahu kapan malam lailatul qadar, dikhawatirkan kalian malas dan hanya malam itu saja kalian semanggat." (Hadits riwayat Ahmad nomor 20253)

Akhirnya Ubay bin Ka'ab mengatakan, "Wallāhi (Demi Allāh), saya tahu malam tersebut adalah malam ke-27 di bulan Ramadhān."

Dan Ibnu Mas'ud pun tahu bahwa malam lailatul qadar adalah malam ke-27.

⇒ Ini pendapat sebagian salaf, mereka bersumpah bahwasanya malam lailatul qadar adalah malam ke-27.

Dalam hadīts lain, hadīts dari Abū Sa'id Al Khudri, bahwasanya malam lailatul qadar pernah terjadi pada malam ke-21.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam di awal disyari'atkan i'tikaf, beliau beri'tikaf di sepuluh malam pertama untuk mencari malam lailatul qadar.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam membuat kemah di dalam masjid kemudian beliau masuk ke dalam masjid dan beliau i'tikaf. Ternyata malāikat Jibrīl datang dan berkata, "Sesungguhnya malam lailatul qadar ada didepanmu."

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam melanjutkan kembali i'tikaf di sepuluh malam yang kedua. Setelah lewat sepuluh malam keduapuluh, keesokan harinya malāikat Jibrīl mengatakan, "Sesungguhnya malam lailatul qadar di depanmu." (Berarti di sepuluh malam yang terakhir)

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam melanjutkan kembali i'tikafnya, tatkala itu di malam ke-20 Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bermimpi bahwasanya beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) sujud di malam lailatul qadar dan sujud di tanah yang basah, dan beliau kabarkan kepada para shahābat.

Kata Nabi:

"Tadi malam saya bermimpi, saya shalāt di malam lailatul qadar, kemudian pagi harinya saya shalāt ditanah yang basah (padahal tatkala itu tidak ada hujan)."

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan demikian, beliau bermimpi di malam kedua puluh, pagi harinya beliau kabarkan kepada para shahābat.

Dan ternyata benar besoknya (malam ke-21) turun hujan dan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam shalāt subuh kemudian kata Abū Sa'id Al Khudri:

"Saya melihat dahi beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) terkena tanah yang basah (sebelumnya tidak ada hujan) berarti tadi malam, malam ke-21 adalah malam lailatul qadar."

Dari sini sebagian ulamā seperti Al Hafizh Ibnu Hajar dan ulamā muasyirin seperti Syaikh Muhammad bin Shālih Utsaimin menyatakan malam lailatul qadar pernah terjadi pada malam ke-21 (sebagaimana hadīts yang shahīh).

Dan malam lailatul qadar juga pernah terjadi pada malam ke-27 sebagaimana sumpahnya shahābat.

Oleh karenanya Syaikh Muhammad bin Shālih Utsaimin dan Ibnu Hajar mengatakan, "Bahwasanya yang benar malam lailatul qadar itu berpindah-pindah tidak bisa dipastikan."

Bisa jadi tahun ini malam ke-21 bisa jadi tahun depan malam ke-23, bisa jadi tahun berikutnya malam ke-29, malam ke-27 atau malam ke-25, kita tidak tahu kapan terjadinya.

Oleh karenanya barangsiapa yang shalāt (beribadah dengan sebenar-benar ibadah) di malam-malam ganjil di sepuluh malam yang terakhir pasti akan bertemu dengan malam lailatul qadar.

Dan itu di antara hikmahnya tatkala Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dilupakan tentang malam lailatul qadar dan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan, "Mudah-mudahan nilai baik bagi kalian."

Karena tatkala kita tidak mengetahui kapan malam lailatul qadar maka kita banyak beribadah di malam-malam ganjil tersebut.

Hanya saja para ulamā menyatakan, malam yang paling diharapkan lailatul qadar adalah malam ke-27.

Kenapa?

Shahābat (Ubay bin Ka'ab) tadi bersumpah, "Saya tahu malam tersebut adalah malam ke-27."

Oleh karenanya sangat diharapkan malam ke-27, meskipun tidak bisa dipastikan, karena pendapat yang rājih tadi bahwasanya malam lailatul qadar berpindah-pindah.

Bahkan sebagian orang menggunakan hitungan-hitungan dalam surat dan ini bukan tafsir. Mereka sekedar mencari-cari rahasia Al Qurān.

Seperti:

√ Lailatul qadar disebutkan dalam surat Al Qadr 3 (tiga) kali.
√ Lailatul qadar jumlahnya 9 (sembilan) huruf (ل، ي، ل، ت، ا، ل، ق، د، ر)

◆ Lalu 3 X 9 =27

⇒ Jadi malam lailatul qadar jatuh pada tanggal 27 (sebagian orang mengatakan demikian).

Sebagian ada yang mengatakan, coba hitung huruf dari "Innā anzanāhu" sampai "salāmun hiya hatta" hiya (dhamir) ini kembali kepada lailatul qadar.

Bila antum menghitung kalimat ini dia adalah kalimat yang ke-27, namun Wallāhu A'lam bishawāb ini semua bukan tafsir, ini sekedar. penyebutan sebagian orang mencoba-coba menguatkan bahwasanya malam lailatul qadar adalah malam yang ke-27.

Akan tetapi, Wallāhu A'lam bishawāb, yang benar tadi yang telah kita sampaikan. Malam lailatul qadar pernah turun pada malam ke-21 dan pernah di zaman Nabi malam lailatul qadar turun pada malam ke-27. Ini menunjukan bahwasanya malam lailatul qadar turun pada malam-malam ganjil disepuluh malam yang terakhir.

Oleh karenanya kita harus semangat untuk beribadah di malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhān.

Demikian.

وبالله التوفيق
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
——————————
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ;  0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA

▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*

📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda..*

Contoh : 100.025
-------------------------------------


gunakan https://www.roryrachmad.net (jika tidak bisa buka halaman)
Proudly Powered by Abu Uwais.